Laman

Development is Freedom . . . . . . . Pembangunan Adalah Pembebasan

Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Itu Ada Kemudahan

Jumat, 01 November 2013

GO GREEN-MADANI


GO GREEN-MADANI
Mencintai Alam Hari Ini, Disayangi Alam Selamanya.
Gerakan cinta alam dan masa depan ini InsyaAllah akan diluncurkan di awal tahun kebangkitan 1435 H.....
Let's Go Think Green because Green is Peace. 

Gerakan ini dimulai dari gerakan penyadaran untuk menanam, memelihara dan mencintai pohon di lingkungan dan lahan kritis serta hutan lindung, menjaga hutan lindung dari perusakan yang sering mengatasnamakan kepentingan kekuasaan.
Sebab hanya ketika pohon tegak berdirilah kehidupan selanjutnya akan aman, nyaman dan damai, sebab udara bersih, tidak kekurangan air, dan melawan global-warming.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Festival Masa Depan,
Sebuah Terobosan Inovatif Dalam Menyusun Visi Desa Jatisura

Ditengah jenuhnya masyarakat mengikuti proses perencanaan pembangunan (musrenbang desa) yang sering dianggap hanya formalitas belaka, muncullah sebuah kegiatan inovatif yang diberi label Festival Masa Depan yaitu sebuah kegiatan perencanaan partisipatif dalam rangka menyusun visi desa 10 tahun mendatang.
Kegiatan inovatif tersebut berlangsung di Desa Jatisura, salah satu lokasi PNPM Mandiri Perkotaan, Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Sebuah wilayah terletak di bagian utara Kabupaten Majalengka ini dikenal sebagai pusat  industry genteng, sehingga mata pencaharian masyarakatnya pun sebagian besar sebagai buruh pabrik disamping sebagai pedagang dan petani. 
Festival Masa Depan Desa Jatisura dimulai dengan diskusi kelompok masyarakat di masing-masing blok/lingkungan, kelompok diskusi tersebut terdiri dari kelompok anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak. Diskusi difokuskan pada pembahasan visi Desa Jatisura 10 tahun ke depan. Hasil diskusi masing-masing kelompok tersebut disajikan dalam bentuk gambar, yaitu gambar yang menunjukkan kondisi Desa Jatisura 10 tahun ke depan. 
Selanjutnya gambar-gambar hasil diskusi kelompok dari masing-masing blok/lingkungan tersebut ditempel di dinding-dinding ruang gallery JaF (Jatiwangi art Factory, lembaga swadaya masyarakat local yang konsen melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan budaya). Satu per satu gambar visi hasil diskusi tersebut dipresentasikan oleh perwakilan kelompok diskusinya, kemudian dibahas lagi dalam diskusi tahap berikutnya yang dinamakan tahap memadukan visi, yaitu memilah visi yang paling mungkin dapat diwujudkan.
“Festival Masa Depan ini merupakan kerja kolaboratif Pemerintah Desa Jatisura, Jatiwangi art Factory, serta melibatkan juga lembaga swadaya Rujak Center for Urban Studies yang sepakat untuk membuat Institut Masa Depan” demikian penjelasan Ginggi Syar Hisyam Kepala Desa Jatisura.
Festival ini melibatkan para ahli, seperti arsitek, sosiolog, antropolog, designer, ahli tata ruang, budayawan dan seniman sebagai fasilitator dan kolaborator dalam menggambarkan visi desa serta menyusun langkah-langkah untuk mencapainya. Ahli-ahli tersebut adalah para aktivis yang bergerak di bidang pemberdayaan yang berasal dari berbagai wilayah Jawa Barat yang datang secara khusus sebagai relawan atas undangan Kuwu Jatisura sebagai penggeraknya. 
Festival Masa Depan Desa Jatisura ini dilaksanakan dengan cara yang partisipatif, gembira, informal, rekreatif dan aspiratif sehingga seakan menjadi solusi bagi rendahnya partisipasi warga masyarakat dalam menyusun perencanaan pembangunan desa. Rendahnya pertisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan itu hampir menggejala di setiap desa, hal itu terjadi karena selama ini proses perencanaan pembangunan melalui Musrenbangdes (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa) hanya melibatkan tokoh-tokoh elit desa seperti Pemerintah Desa, BPD (Badan Permusyawaratan Desa), LPM Desa (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) dan para Ketua Blok/Lingkungan dan Ketua-ketua RW/RT, sedangkan masyarakat yang diwakili oleh para elit desa tersebut tidak pernah dilibatkan, belum lagi hasil musrenbangdes tersebut tidak sepenuhnya dijadikan dasar untuk pelaksanaan pembangunan, sehingga masyarakat menjadi enggan mengikuti proses musrenbangdes.
Penyusunan visi desa yang dibungkus dengan istilah festival ini merupakan langkah inovatif yang sangat mempengaruhi animo masyarakat dalam mengikuti proses ini, karena halaman rumah atau halaman sekolah dijadikan ruang-ruang diskusinya, bahan diskusinya adalah realitas kehidupan desa yang penuh keterbatasan. Betapa bergairahnya masyarakat dalam setiap diskusi, seakan mereka tidak sedang malakukan hal besar yang menentukan masa depan desanya. Setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya, tidak peduli bapak-bapak, ibu-ibu maupun remaja dan anak-anak, semua berbicara.
Anehnya lagi sejak dimulainya kegiatan ini tidak terdapat acara seremonial seperti sambutan-sambutan yang kadang memakan waktu lebih banyak daripada kegiatan intinya, sehingga diskusi mengalir dengan alami tanpa merasa ada yang mengawasi walaupun dihadiri oleh Kepala Desa, Camat Jatiwangi dan adapula pejabat BAPPEDA Kabupaten. 
“Masyarakat sudah bosan mendengar pidato-pidato”, demikian kata Arief Yudi seorang seniman aktivis penggerak JaF asal Desa Jatisura yang juga merupakan tokoh penting pemberdayaan masyarakat di desanya.
Sungguh sebuah pembelajaran yang luar biasa, kegiatan perencanaan partisipatif melalui pendekatan informal dan rekreatif ini membuka ruang partisipasi warga lebih luas, partisipasi yang dilandasi antusias dan kesadaran, sebuah prinsip (partisipasi) yang juga sedang diusung oleh PNPM Mandiri Perkotaan. 
Kegiatan ini sengaja dinamakan festival, untuk menarik perhatian masyarakat agar mau terlibat dalam proses perencanaan pembangunan desa, hal ini dilatarbelakangi oleh rendahnya partisipasi warga dalam proses perencanaan pembangunan desa apabila menggunakan istilah-istilah konvensional seperti rapat, musyawarah maupun rembug. Terbukti ketika istilahnya diganti dengan kata festival serta kegiatannya dilakukan secara informal dan dikolaborasikan dengan pendekatan seni dan budaya maka partisipasi warga pun meningkat disamping sense of belonging  warga terhadap pembangunan desapun menjadi lebih tinggi. Strategi mengganti istilah-istilah dari formal menjadi istilah informal (berbau seni) untuk menarik keterlibatan warga ini bukan hanya dilakukan pada kegiatan penyusunan visi desa, namun masih banyak lagi kegiatan yang dilaksanakan dengan cara inovatif seperti program Wisata di Kampung Sendiri, Festival Film Village yang diikuti oleh peserta dari belasan negara, Bazaar Desa yang menampilkan produk makanan maupun handycraft masyarakat setempat, Festival Musik Keramik dimana semua alat musiknya berasal dari tanah, Pameran di Rumah Warga yang memamerkan karya-karya seni dimana rumah-rumah warga dijadikan galerynya sehingga terjadi saling-kunjung antar warga, Program Jatisura Bisa Ngurus Runtah sebuah program penanganan sampah yang melibatkan seluruh warga, dan masih banyak lagi kegiatan yang dipelopori oleh Kepala Desa Jatisura sebelum kegiatan festival masa depan ini.
“Kegiatan festival masa depan dalam rangka membangun visi desa yang dilakukan dengan cara yang unik ini sebenarnya sesuai dengan prinsip-prinsip perencanaan pembangunan dalam undang-undang, sehingga diharapkan menghasilkan visi desa yang sesuai RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) kabupaten”, jelas Yusmanto seorang Kasi Bappeda Kabupaten Majalengka.
Sebuah langkah inovatif dalam perjalanan panjang pemberdayaan.


Rabu, 29 Mei 2013

ANAK PUNK, PELOPOR KEBERSIHAN & KESEHATAN LINGKUNGAN


Walaupun tetap berpenampilan seperti anak punk lainnya, namun anak-anak punk yang tergabung dalam Paguyuban Sabondoroyot ini memiliki beberapa kegiatan positif yang menginspirasi masyarakat sekitar, antara lain menjadi pelopor kebersihan dan kesehatan lingkungan di Desa Leuwimunding Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka.
Berkat kegiatan Jum’at Bersih (Jumsih) yang mereka lakukan sejak delapan bulan lalu, Paguyuban Sabondoroyot ini telah merebut perhatian dan simpati warga sekitar, betapa tidak, karena berkat kepeloporan mereka dalam mengelola sampah untuk menciptakan kebersihan dan kesehatan lingkungan membuat gerakan Jumsih menjadi populer kembali di masyarakat. 
Kegiatan Jumsih tersebut dilakukan setiap hari Jum’at dengan cara mengambil sampah warga secara bekeliling dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Semua itu dilaksanakan secara swadaya dan sukarela, bahkan tong sampah bergambar yang disimpan di setiap mulut gang pun adalah hasil kreasi anak-anak punk yang dimotori oleh Andi Gondil dan Odon ini.
Untuk menambah manfaat sampah unorganik, kelompok anak muda ini telah mengikuti pelatihan pembuatan handycraft yang difasilitasi oleh LKM Tirta Mandiri Desa Leuwimunding Majalengka. 
“Kami siap membantu, kami akan menyediakan cator (beca bermotor) yang akan difungsikan menjadi gerobak sampah untuk memudahkan kegiatan paguyuban ini”,  kata Junaedi Camat Leuwimunding bersemangat, yg disampaikan dalam sambutannya pada acara diskusi tematik yang diselenggarakan LKM Tirta Mandiri pada tanggal 17 Mei lalu.
Kegiatan positif lain yang telah dilakukan oleh anak-anak muda kreatif ini adalah lomba melukis tong sampah, menurut Andi Gondil, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan dan kesehatan lingkungan. 
Disamping kegiatan social yang nirlaba ini, mereka pun memiliki kegiatan yang menguntungkan secara finansial yaitu usaha sablon, sehingga sekarang sudah memiliki distro kaos oblong yang pangsa pasarnya anak-anak muda.
Respon masyarakat dan stakeholder lain atas inisiatif anak-anak punk ini sungguh luar biasa, sebut saja, salah seorang dosen Universitas Majalengka yang hadir dalam acara diskusi, bahkan menjanjikan akan memberikan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik/kompos. Demikian pula LKM Tirta Mandiri, sudah menyiapkan anggaran dalam renta (rencana tahunan) 2014 yaitu berupa fasilitasi program dan kegiatan untuk mengembangkan kegiatan penyadaran kebersihan dan kesehatan lingkungan yang dipelopori oleh anak-anak punk yang tergabung dalam Paguyuban Sabondoroyot ini.




Selasa, 21 Mei 2013

Sebuah Kesaksian Tentang BLT


Salah seorang penduduk miskin di Desa Kulur Majalengka, calon penerima manfaat kegiatan perbaikan RumahTidakLayakHuni dari PNPM Mandiri Perkotaan, menyatakan bahwa dia "tidak termasuk masyarakat penerima BLT", dan bahkan Raskin pun hanya mendapatkan 4 Kg,,,, ckckckck.
Hmmmm,,,, terbukti bahwa program-program penanggulangan kemiskinan masih belum tepat sasaran,,, ayooo kita perbaiki bersama.

Pelestarian Mbaru Niang, Jadi Nominasi Aga Khan Award



Pelestarian Mbaru Niang, desa Wae Rebo, Flores, dimulai oleh arsitek Yori Antar.  Rumah kerucut warisan kebudayaan Manggarai ini masih dihuni oleh masyarakat setempat, tetapi berada dalam kondisi yang rentan. Proses pelaksanaan preservasi dilakukan dan dipimpin oleh masyarakat setempat. (AKAA / Courtesy of Architect)

Jumat, 22 Maret 2013

Pemakaman Kuno Mesir Ungkap Penderitaan Rakyat Jelata



Meski para penguasa Mesir membangun piramida megah yang penuh harta berkilauan, masyarakat kelas bawah melakukan pekerjaan melelahkan dengan kondisi kelaparan.

Sebuah analisis yang dilakukan terhadap lebih dari 150 kerangka dari sebuah pemakaman berusia 3.300 tahun di kota Mesir kuno, Armana, menemukan tulang yang patah karena mengangkat beban berat, dan gizi buruk yang merajalela di kalangan rakyat jelata kota tersebut.

Penemuan tersebut, yang dirinci dalam jurnal “Antiquity” edisi Maret, bisa menjelaskan tentang kehidupan masyarakat golongan bawah di Mesir kuno.

Kota yang berdiri singkat 
Selama 17 tahun, Mesir berpusat di Amarna, sebuah kota kecil di tepi sungai Nil, sekitar 350 km di selatan Kairo.

Firaun Akhenaten mengalihkan ibu kotanya ke Amarna untuk sebuah kultus pemujaan murni dan tidak tercemar yang didedikasikan untuk dewa matahari, Aten.

Dalam beberapa tahun, kuil, gedung-gedung pengadilan, dan kompleks perumahan bermunculan. Setelah itu, sekitar 20.000 sampai 30.000 penduduk yang terdiri atas para pejabat pengadilan, tentara, kuli bangunan, dan pelayan hidup di kota tersebut.

Akan tetapi setelah kematian Akhenaten, firaun penggantinya, Tutankhamun, segera melancarkan eksperimen. Kota tersebut, yang tidak memiliki lahan pertanian yang baik, dengan cepat ditinggalkan.

Oleh karena orang-orang Mesir menduduki Amarna dalam waktu yang singkat, kota tersebut memberikan wawasan baru kepada para arkeolog yang belum ada sebelumnya tentang kehidupan masyarakat pada masa tersebut, kata salah satu peneliti Anna Stevens, arkeolog di University of Cambridge.

Kehidupan keras
Sekitar 10 tahun yang lalu, seorang peneliti menyelidiki sebuah daerah gurun di dekat Amarna menemukan sebuah kuburan kuno. Situs tersebut berisi ratusan kerangka dan pecahan tulang dari warga Mesir kalangan bawah.

Untuk melihat seperti apa kehidupan sehari-hari rakyat Mesir tersebut, Stevens dan rekan-rekannya menganalisis 159 kerangka yang sebagian besar ditemukan dalam keadaan utuh. 

Kesimpulan para peneliti: Kehidupan sangat keras di Amarna. Pertumbuhan anak-anak terhambat, dan banyak tulang keropos akibat kekurangan gizi, mungkin karena rakyat jelata hidup hanya dengan mengonsumsi roti dan bir, kata Steven kepada LiveScience.

Lebih dari tiga perempat dari orang dewasa memiliki penyakit sendi yang membuat mereka semakin lemah, kemungkinan akibat mengangkut beban berat, dan sekitar dua pertiga dari orang dewasa mengalami setidaknya satu patah tulang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan cepat Amarna mungkin sangat berat bagi rakyat jelata. Berdasarkan ukuran batu bata yang ditemukan di dekat rangka bangunan di sekitar situ, setiap pekerja diperkirakan membawa batu bata kapur seberat 70 kg dengan cara estafet. Mendirikan bangunan kota secepat itu membuat para pekerja berulang kali mengangkat beban berat tersebut. Hal tersebut bisa menyebabkan penyakit sendi seperti yang dialami kerangka yang ditemukan.

Norma di Mesir?
“Ini adalah sebuah studi yang luar biasa karena ini merupakan sebuah jumlah masyarakat yang besar dari sebuah situs terkenal, dan jasad yang kami temukan beradal dari kelas bawah,” kata Salima Ikram, seorang peneliti Mesir di American University di Cairo, yang tidak terlibat dalam penelitian itu.

Namun karena, secara keseluruhan, para arkeolog menemukan sangat sedikit kuburan Mesir kuno tempat masyarakat kelas bawah dimakamkan, sangat mungkin bahwa kondisi melelahkan tersebut terjadi di seluruh kawasan Mesir pada masa itu, kata Stevens.

Penelitian lain telah menemukan bahwa bahkan orang-orang Mesir kaya menderita penyakit dan kekurangan gizi, sering kali hidup hanya sampai usia 30-an.

LiveScience | Yahoo! News – Rab, 20 Mar 2013

Multi Orgasme Pasca Menopuse. Apa Rahasianya?



Setiap wanita dalam hidupnya pasti akan mengalami tahap Menopause. Memang kenyataannya mungkin masih sekitar 15 – 25 tahunan lagi dari usia muda. Sebab proses Menopause akan dialami wanita ketika ia beranjak usia 45 tahunan ke atas.

Namun tidak ada salahnya jika Anda mengetahui apa yang akan terjadi untuk mengantisipasi saat proses ini akhirnya menjumpai Anda di kemudian hari. Kekhawatiran terbesar bagi wanita dan juga tentu pada pasangan hidupnya adalah saat wanita mengalami Menopause maka hilangnya keinginan untuk berhubungan intim dengan pasangannya. Banyak mitos yang berkata wanita tidak bergairah terhadap seks, dan tidak akan bisa mencapai kepuasan seksual. Mitos seperti itu tentu tidak benar.
Memang betul kondisi fisik kita akan berubah, seiring dengan berkurangnya hormon estrogen pada tubuh wanita. Perubahan yang bisa dirasakan adalah menebalnya dinding vagina, kondisi mengering pada mulut vagina dan berkurangnya elastisitas pada kulit.
Namun jangan khawatir karena permasalahan itu bisa diatasi segera dengan cairan lubrikan yang baik. Jika kita mencermati para selebriti Hollywood banyak dari antara mereka yang tetap terlihat menarik dengan sex appeal yang tinggi di saat usianya memasuki akhir 40 bahkan 50 tahun.
Sebut saja penyanyi legendaris Madonna yang menginjak usia 55 tahun, salah satu rahasia awet mudanya selain berolahraga tiap hari adalah memulai harinya dengan bercinta, seperti yang pernah ia utarakan dalam salah satu majalah lifestyle di Amerika.
Siapa yang tak kenal dengan Sharon Stone, aktris yang pernah populer dengan film Basic Instinct juga sudah memasuki usia 55 tahun dan sex appeal-nya tetap luar biasa. Anda ingat dengan artis yang populer berkat film serial Sex And The City, Samantha Jones alias Kim Cattrall pun tetap tampil mempesona di usianya yang memasuki angka 56 tahun dan masih banyak lagi.
Lalu apa yang sebenarnya akan terjadi pada kehidupan seksual Anda pada saat Anda Menopause? Jawabannya, tidak akan ada yang berubah selama Anda bisa mengaturnya. Banyak wanita yang menuturkan bahwa setelah menopause mereka justru merasakan kelegaan yang luar biasa, lebih lepas, lebih bebas karena tidak perlu mengkhawatirkan akan hamil.
Wanita tidak akan mengalami siklus menstruasi bulanan dengan segala emosi naik turun saat sedang PMS atau sakit fisik lainnya. Bahkan banyak wanita yang mengaku bisa mencapai multi orgasme setelah menopause, apa rahasianya?
Ternyata saat wanita Menopause bisa dikatakan di usia yang sudah sangat matang, dan begitu berpengalaman di atas ranjang. Mereka sangat paham dengan apa yang mereka inginkan di atas ranjang demikian dengan pasangannya yang mampu memberikan kepuasan tersebut.
Trik lain untuk tetap bergairah setelah Menopause adalah banyak berolahraga, selain baik untuk kesehatan berolahraga akan menstimulasi libido Anda. Sebab saat seseorang sehat fisik dan mental, maka dorongan seksualnya juga baik.
Dan yang terakhir jangan lupa untuk memberikan waktu lebih untuk sesi foreplay karena kebutuhan intimacy dengan pasangan akan semakin meningkat. 

(So,, jangan takut kehilangan nikmatnya brcinta setelah masa menopause,, mari songsong masa menopause dengan tetap senyum dan semangat.... !)

DuniaFitnes.com