Laman

Development is Freedom . . . . . . . Pembangunan Adalah Pembebasan

Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Itu Ada Kemudahan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2019

SIAPA BILANG

Siapa bilang bumi menangis, bumi itu bertasbih
Siapa bilang gunung-gunung murka, gunung-gunung itu bertasbih
Siapa bilang lautan dan gelombang marah, gelombang lautan itu bertasbih
Siapa bilang matahari tenggelam ke peraduan ketika senja, matahari itu bertasbih
Siapa bilang bulan itu malu-malu bersembunyi di balik awan, bulan itu bertasbih
Aku,
akulah yang tak pernah bertasbih..!!!

Cirebon, Rabu, 8 Mei 2019

Selasa, 13 Desember 2016

PUCAT PASI SAWAHKU

Siapa bilang kedaulatan pangan kita terancam?
Buktinya sebagian besar dari kita masih makan cukup setiap harinya
Dan bersisa...
yang selalu kita lempar ke ayam milik tetangga yang sering mengotori teras setiap paginya
(makanan kemaren dulu yang sudah dihangatkan satu dua tiga kali hingga hilang rasanya)
Dan ayampun muntah....

Siapa bilang sawah di negeri kita tak subur lagi?
Lihatlah itu dia masih hijau menyejukkan matamu
Walau tak sejauh mata memandang lagi
Tapi tetaplah hijau

Siapa bilang sawah di kampung kita tak subur lagi?
Lihatlah itu dia masih hijau muda pucat pasi
Dan sudah bukan milik kita lagi
Karena telah ditukar menjadi ijazah sarjana anak-anak kita yang hari ini masih berebut sesuatu yang tak pasti
Sawah kita tetap subur, tapi tak lagi sehijau kemarin pagi

Siapa bilang sawah di kampung kita tak subur lagi?
Lihatlah itu dia semakin hijau menyilaukan mata hati
Saking suburnya sawah kita bukan hanya menghasilkan padi, jagung dan kedelai
Kini di lahan sawah kita telah tumbuh perumahan dan minimarket yang tak henti tumbuh bak rumput teki
Bahkan jalan tol dan bandara pun tumbuh diatas lahan sawah kita
Tak peduli pita kaset dan orang-orangan untuk menakuti burung yang dipasang di setiap sudut batas lahan kita
Dan mengusir bolokotono yang biasa hinggap di kangkung belanda yang tumbuh di pematang
Bahkan tikus dan ular penghuni lubang-lubang tersembunyi di pematang pun terusir dan lari terbirit-birit
Tak kuat menahan bisingnya sirine intimidasi dan beratnya buldozer yang memporakporandakan lubang persembunyian
Sawah kita semakin subur, tapi merah tak lagi hijau, menyilaukan

Kini bermain lumpur saat tandur sudah jadi bagian dari piknik bagi anak-anak kita
Hijaunya padi, jagung dan kedelai di pesawahan hanya dapat dilihat di media sosial dalam genggaman tangan dunia maya anak-anak kita
Takutku adalah, bila anak-anak kita nantinya tak mengenal dari mana padi yang mereka makan setiap harinya
Takutku adalah, anak-anak kita tak mengenal lagi petani  dan kemudian tercabut dari akar budaya nenek-moyangnya
Takutku adalah, padi, jagung dan kedelai hanya akan dianggap sebagai hal-hal abstrak karena belum pernah dilihatnya secara nyata
Takutku adalah, bila tak ada lagi yang takut bila kenyataannya makanan yang dimakannya bukan berasal dari tanah di negeri tempat dimana ia harus merasa bangga
Takutku adalah, bila membanjirnya uang seperti air bah sebagai pengganti lahan sawah yang hilang membuat orang-orang merasa merdeka dan berdaulat karena meyakini uang adalah segalanya
Takutku adalah, mereka lupa bahwa uang tak dapat digunakan untuk membeli sesuatu yang tidak ada

Siapa bilang kedaulatan pangan kita terancam?
Buktinya sampai hari ini, kita masih bisa saling-memakan satu sama lain...!


Chik Hikmawan Priemathez - Girimadani Senter – April 2016




Kamis, 16 Juni 2016

Welcome Ramadhan

Welcome Ramadhan
Semoga kau masih mengingatku
Orang yang tahun lalu pun menyambutmu dengan (pura-pura?) sukacita padahal sepanjang ramadhan aku menyia-nyiakanmu
Sbb puasaku ternyata bukan hanya utk puasa
Sebab laparku tak jadi kepedulian, 
Menahan amarahku tak jadi keramahan
Menahan nafsuku tak jadi syukur atas nafas kehidupan.
Kini saatnya memperbaiki janji pd diri sendiri untuk mnunaikan ibadah puasa hanya untuk puasa,
Sebab ini antara kita, 
Kau dan Aku
Yang tahu bahwa puasaku belum benar2 puasa seperti puasanya orang-orang berpuasa...


Puasaku adalah puasaku
Anda mau gak puasa, mau makan minum merokok didepanku
Atau mau buka warung makan sepanjang hari
Silakan...
Karena puasaku gak akan terganggu ulahmu
Godalah aku sepuasmu....!t

Puasaku entah puasa atau bukan puasa 
namun aku lanjutkan untuk terus berpuasa
aku mencoba untuk menisbikan kriteria-kriteria agar aku tak bersikap riya
yang kutahu hanyalah ada getar yang membahana ketika kutahu Kau tunggu aku di penghujung hari ini

Minggu, 22 Maret 2015

Hari Air Se-Dunia

Beritahu sungai dan tebing-tebing
kabari hutan dan lembah-lembah
bila kita tak melakukan apapun untuk menyelamatkan dan melestarikan air!
bahkan berterimakasihpun lupa padahal setiap saat air menghidupi kita
sampai suatu kala tiba,
banjir dan kekeringan mengingatkan kita
bahwa iar telah menghidupi kita sepanjang hayat
dan bahkan menjaga kita dari kebinasaan,,,,


(Selamat Hari Air)

Rabu, 11 Maret 2015

INILAH PUISIKU, MERAH-MARAHKU...!

Gunung-gunung megah tampak berdiri dengan gagah
Perkasa menyangga alam dengan hijaunya yang kukuh
Membuat pandangan mata jadi sesejuk embun
Dan tarikan nafas seringan kapas,  Oh,,,
Betapa nikmatnya hidup ketika udara dapat dihirup dengan bebas
tanpa batas

Itulah kemarin dan hari ini
Itulah mimpi manusia paling abadi
Namun entah esok atau lusa
Bulan depan atau tahun depan
Masihkah udara sesejuk, seringan dan sebebas kita hirup seperti hari ini?

Aku tak yakin,,,,,
Sebab esok kenyataan pahit akan meruntuhkan mimpi indah malam tadi
Pagi-pagi kudengar dari burung  hantu yang mulai gelisah
Para cukong dan perampok sedang berdiskusi dan sesekali tertawa
Menyusun rencana menukar kemerdekaan lingkungan kita dengan nafsu serakah mereka
Dibalik dinding-dinding gedung yang kedap suara, yang dibangun dari uang pajak sodara,,sodara dan sodara


Aku yakin,,,
Bila nanti pohon-pohon telah menjadi tiang-tiang mall yang menjulang
Bila bukit dan gunung tak lagi menjulang kokoh memaku bumi
Bila sawah-sawah tak lagi terhampar karena sudah jadi pelataran parkir
Puluhan bahkan ratusan ribu anak-anak kita
Takkan lagi mengenal padi yang setiap saat mereka makan
Takkan lagi mengenal pohon dan hutan yang udaranya mereka hirup setiap detik
Lantas, kalian mau berpangkutangan mendapati kenyataan
hak hidup anak-anakmu direnggut dari tanganmu sendiri?


Bila saat itu tiba, aku bertanya
Kemanakah perginya mereka para cukong dan perampok
yang kemarin bergelimang harta bermandikan kemewahan
dari hutan yang mereka tebang
 dari sungai yang mereka cemari
dari mata air yang mereka hisap habis
dari tanah yang mereka kencingi
dari binatang yang mereka keringkan di ruang-ruang tamu?
Aku bertanya..... beranikah kau nyalakan nyalimu menjadi api?

 Inilah puisiku
kegelisahan ditengah gelak-tawa orang-orang sesat pikir
yang bicara pemberdayaan dan pembangunan tapi tak berpihak pada lingkungan yang semakin sekarat
yang bicara pendidikan tapi tak menyentuh realitas kehidupan
apalah artinya

Inilah puisiku Tuhan,, sebuah bola api di mulutku
Sebab ketika mulutku meneriakkan lingkungan hidup
pada saat yang sama mataku melihat lingkungan berangsur mati
dirusak dan ditukar dengan rupiah yang semakin tak berarti
Aku marah, Tuhan, Aku marah...!



Persembahan Dari       : GirimadaniSenter

Untuk                            : Komunitas Pencinta Lingkungan Lestari

Kamis, 24 Januari 2013




ARTI KEHIDUPAN
(Karya : Cucu, S.Pd)

Tanpa keluh kesah dan gerutu
Kau datang sinari dunia
Terima kodrat serta tugas nan mulia
Memberi nafas pada sukma jagat raya
Pada kami yang terkadang tak mampu dan tak mau mampu
Pada kami yang enggan disebut durhaka
Pada kami yang senantiasa merasa lebih mulia
Pada kami yang terkadang lupa membaca
Pada kami yang tak sadar berbuat cela
Pada kami yang tak terima dihina
Pada kami yang menyandang makhluk mulia

Wahai mentari........
Kadang aku tahu tapi tak mau mengaku
Kadang aku sadar tapi malu
Kadang aku mau tapi ragu
Bahkan kadang aku enggan karena ego dan harga diri

Dan pada hari ini, disini, 
Aku sadar muliaku susut karena malu
Sempurnaku hilang karena sifatku
Derajatku berkurang karena ego ku
Kadarku tak nyampai selogam mulia

Dan pada kesadaran diri......saat ini....
Dalam segenap daya dan upayaku
Kutekadkan ikhlas, 
Kuniatkan rela
Sebab aku yakin......
Bahwa jasa akan mengikuti rasa ikhlas dan rela
Bahwa mutiara tetap mutiara 
Bahwa mentari tetap mentari walau malam terganti siang
Dan bahwa benar adalah benar kapan dan dimanapun aku berada

Karya : Cucu, S.Pd (Koord Forum LKM Kec Sumberjaya)
Seiring ucapan selamat ke tempat tugas baru kepada Ibu yanti
Serta permohonan maaf dari kami atas hilaf selama ini.

Senin, 01 Oktober 2012

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL


KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL
(untuk adinda: Khaerunisa)


Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil


Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar
aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi


Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri
sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong


Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku


Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli
aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya.
Ini negeri melimpah, gemerlap.
Ini negeri cinta


Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini


Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya


Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.


aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil


(Abdurahman Faiz,  Juni 2005)

dibawakan oleh Endin dan Ayoe
Karang Taruna As-Salam Desa Kulur - Majalengka
Pada Acara Gebyar Sosial Pelangi Peduli 1 (GSPP-!)
Sabtu, 13 ktober 2012 - Kulur - Majalengka

Kamis, 02 Agustus 2012

"ANAK TIRI IBU PERTIWI"




“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
Sila terakhir yang kulafalkan pertama kali saat upacara bendera senin pagi awal tahun tujuh puluhan
selalu terngiang dan melekat basah di lidah,
yang sepertinya takkan pernah salah mengucapkannya sampai kapanpun
namun akhir-akhir ini ada satu pertanyaan yang menggangguku,
“Akupulakah Rakyat Itu?”
…………………………………………..

Bila memang aku juga rakyat yang tersurat dalam sila terakhir itu
kenapa kau tinggalkan aku di kampung kumuh tak berbekal makanan dan minuman yang cukup?
kenapa kau suruh orang-orang berseragam tangkapi aku, seret aku, masukkan aku ke dalam penjara yang mereka sebut pembinaan?
kenapa kau biarkan aku keluar dari penjara tanpa kau beri aku pakaian yang layak sehingga aku tetap tidak dapat membaur dengan lingkungan yang kau bangun dengan bau kapitalisme?
kenapa air susu yang kau berikan padaku tidak sama manisnya dengan air susu yang kau berikan kepada saudara-saudaraku yang lain yang membuat saudara-saudaraku hidup lebih sehat dan cerdas?

Ahhhhh….
tak kupungkiri aku memang menikmati pula yang kau bangun ibu,
jalan-jalan yang mulus aku nikmati
Gedung-gedung yang tinggi aku nikmati walau hanya sebagai tempat peneduh sementara bagiku ketika aku berjalan di matahari pagi dan sore dengan bayangannya
gekolah-sekolah yang megah aku lihat pula,
rumahsakit-rumahsakit yang mentereng aku lihat pula
tapi mereka tak mau mengajariku ketika aku butuh pendidikan
tapi tak mau mengobatiku ketika aku sakit dan butuh pertolongan
dan malah mereka mencibir dengan kesombongannya melihat pakaianku yang compang-camping ketika aku mendekati mereka seakan aku adalah tumpukan sampah yang bau dan kotor
hanya buat merekalah kau buat dan kau bangun semua itu ibu?

aku mengais makanan di sela-sela keangkuhan bangunan yang kau bangun ibu
aku berjalan di atas jalan yang kau bangun,, sendiri,, sepi
seakan tak ada yang mengenalku bahwa akupun salah satu anakmu
apakah kau tak memperkenalkan aku kepada saudara-saudaraku yang lain Ibu?
malukah engkau mengakui aku sebagai anakmu pula?

Ibu,,,
bila aku menuntut
bukan berarti aku ingin belas-kasihmu
aku hanya menuntut hakku sebagai salah seorang anak yang engkau lahirkan untuk diperlakukan sama sebagai anak
yang butuh air susumu
yang butuh pendidikan agar aku dapat menghitung sisa umurku
yang butuh pakaian untuk membedakan diri dari binatang liar
yang butuh sandang untuk menutupi auratku ketika aku beribadah
yang butuh perlindungan kala aku terancam
yang butuh pengobatan ketika aku sakit
yang butuh kasih sayangmu,,
yang butuh belaian lembutmu saat aku gelisah,,
yang butuh pelukanmu untuk menenangkan hatiku saat aku marah…. !

tapi tak kupungkiri akupun pernah merasakan kebaikan saudara-saudaraku itu ibu
pernah kuterima memang pemberian dari saudara-saudara sekandung walaupun tak setiap saat mereka memberiku,
walaupun selalu pemberian bersarat
pernah kuterima pula pemberian-pemberian yang sepertinya berisi kepedulian, namun bagiku itu hanyalah saweran yang apabila aku mau mendapatkannya maka aku harus mau berebut berdesakkan saling-menginjak menyikut bahkan mendorong sehingga kadang aku terluka berdarah

jangan marah bila saat ini aku merasa kehilangan makna akan pancasila yang kau agungkan dan kau ajarkan padaku sejak tempo dulu aku kecil
sebab pancasila yang dulu kau kenalkan padaku demikian agung ternyata sekarang hanya jadi kebanggaan semu
sebab pancasilamu kini hanya jadi alat penguasa untuk mengikat semua yang ada disekelilingnya agar terbelenggu seperti kerbau dicocok hidung
sebab pancasilamu kini hanya sebuah penggalan sajak yang hanya diucapkan pada saat tertentu dengan tanpa makna tanpa jiwa tanpa kesungguhan

akulah,,
salah satu anakmu yang jadi korban atas pancasila yang dikebiri anak-anakmu lainnya ibu
akulah tumbal dari kesewenangan dan keserakahan anak-anakmu lainnya yang tumbuh dan berkembang dengan nafas kapitalisme yang entah darimana mereka dapatkan
tak ada keadilan bagiku
tak ada kesetaraan bagiku
tak ada kesejahteraan bagiku
tak ada kelembutan kasihsayang bagiku

ahhhh,,,
termasuk akukah rakyat itu ibu…?
Apakah engkau - pertiwi - ibu kandungku juga,,,,?


"Yang Termarginalkan"
CHIK - IN GM - AUGUST 2TH, 2012