Laman

Development is Freedom . . . . . . . Pembangunan Adalah Pembebasan

Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Itu Ada Kemudahan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Agustus 2017

KORUPMATIKA


Ah, istilah yang digunakan untuk judul di atas itu hanya karangan sekenanya saja, maksudnya sih "matematika korupsi".... 
Tujuannya (biar kelihatan keren alias sok ngelmu....) untuk menjawab pertanyaan brapa tahunkah kita kehilangan waktu membangun akibat korupsi?
Mari kita pakai langkah-langkah seperi mengerjakan PR pelajaran matematika.

Diketahui :
- Lamanya Indonesia Merdeka sudah 72 tahun
- Asumsi besarnya korupsi di Indonesia sebesar 30%
- Asumsi 30% korupsi uang = 30% kehilangan waktu membangun
- Tahun ini adalah 2017

Jawab :
Tahun x = Tahun ini - (lamanya merdeka x asumsi tingkat korupsi)
= 2017 - (72 x 30%)
= 2017 - 21,6
= 1995,4
Jadi, berdasarkan hitung-hitungan di atas :
- Indonesia HARI INI harusnya dicapai pada tahun 1995 duluuuu, atau...................
- Indonesia HARI INI harusnya seperti Indonesia pada tahun 2038 nanti (2017 + 21,6)

Wow, ternyata dashyat juga ya akibat yang ditimbulkan oleh kebocoran anggaran alias korupsi. Padahal (mungkin) niatnya sih bukan untuk korupsi, tapi sekedar "bagi-bagi kue pembangunan" saja,, hehe,, 
Atau cuma memelesetkan sedikit, misalnya dengan menggunakan istilah uang tanda terima kasih bagi pejabat yang mengucurkan anggaran pembangunan, dan dibungkus dengan istilah adat ketimuran, karena orang timur dikenal sebagai orang yang pandai berterimakasih kali ya, tapi persoalannya adalah dana yang dipakai untuk berterimakasih itu bersumber dari dana untuk pembangunan alias motong/ngiris dari dana pembangunan, akhirnya yang jadi korban ya kualitas/kuantitas bangunan yang pada ujungnya berpengaruh kepada life-time bangunan alias umur bangunan itu sendiri.

Karena (kita) tak kunjung sadar, terbukti praktek korupsi yang terungkap semakin menggila, tampaknya kita harus mulai melakukan upaya-upaya pendidikan korupsi pada generasi muda, sehingga sejak dini terjadi kesamaan pandang tentang persepsi korupsi, sehingga pada akhirnya terjadi kesamaan sikap untuk tidak melakukan korupsi. 

Dirgahayu Indonesia, semoga negeriku merdeka dari penjajahan para koruptor.....!

Minggu, 14 Desember 2014

Refleksi : Gundah Para Ayah

Minggu itu masih remang-remang saat pulang jalan-jalan pagi, sambil nongkrong di tukang serabi yang mangkal di samping sebuah rumah sederhana di pinggir jalan, tak sengaja saya mendengar percakapan pasangan suami istri pemilik rumah tersebut, “Yah, gas dan beras sudah habis lho,,,!” ujar istrinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap menghidupkan motornya, namun lalu diurungkannya karena teriakan anak gadisnya dari pintu depan “Ayah, sepatu sekolah Teteh jebolnya parah banget”.
“Iyaaa,,,”, jawab sang ayah, getir terdengar di telinga saya, apalagi bagi laki-laki itu, saya bisa membayangkan langkahnya semakin terbebani pagi ini.
Saya jadi teringat pesan anak saya semalam, “Tas sekolah dede sudah gak bisa ditutup seletingnya Pa, beliin ya Pa”, dan saya hanya bisa menjawabnya dengan “Insya Allah”, sambil berharap anak saya dapat memahami apabila sore nanti tangan ini tak menjinjing apa yang dia impikan.
Tak sedikit para ayah yang setiap pagi membawa gundah mereka mengiringi perjalanannya sampai di tempat pekerjaan, baik itu keluhan sang istri tercinta tentang uang belanja bulan ini yang sudah habis, susu buat si kecil yang hanya tersisa cukup sampai sore nanti, tagihan cicilan motor, listrik dan air serta hutang di bank keliling yang mulai sering mengganggu tidur, dan segudang gundah lain yang kerap membuatnya kerap terjaga dari tidur pulasnya.
Tak sedikit ayah yang tangguh yang selalu ingin membuat anak istrinya tersenyum, meyakinkan mereka dengan sebuah kalimat yang menjanjikan, “Iyyaa, nanti ayah penuhi semuanya, kalau tidak hari ini ya besok” walaupun dadanya bergemuruh kencang dan pikirannya berputar mencari jalan keluar untuk memenuhi janji yang membuatnya semakin gundah.
Namun tak sedikit pula ayah yang rela menggadaikan iman dan integritasnya, menipu rekan kerja atau rekan bisnisnya, me-markup anggaran dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang dibalik jabatan yang dipegangnya, tapi istri dan anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat  sang ayah, karena yang penting bagi mereka teredam sudah gundah hari itu.
Ada pula beberapa ayah yang terpaksa membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau dengan merebut hak orang lain demi menuntaskan gundahnya, walau akhirnya harus berakhir di penjara, walau akhirnya tangis di rumahnya tetap tak henti karena susu yang dijanjikan sang ayah tak pernah terbeli.
Cukup banyak para istri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan ayahnya di rumah dengan penuh harap, namun hingga malam berganti dini hari yang ditunggu tak juga kembali. Sementara lelaki yang ditunggu dengan penuh cinta oleh istri dan anaknya itu telah babak belur dan tak berkutik, sekarat meregang nyawa menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihakimi massa yang geram oleh aksi kejahatan yang kerap dilakukannya. Sekali lagi, ada ayah yang rela menanggung resiko seperti itu demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.
Sungguh, diantara sekian banyak ayah yang seperti itu, saya sangat salut dengan sebagian ayah lainnya yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya sampai ke tempat pekerjaan dan tetap menggenggamnya ketika kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di keheningan malam, dan tetap menggenggamnya hingga fajar terangi pagi, berharap Allah memberikan rejeki hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang ada dalam genggaman. Sebab ia tetap yakin, Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah terselesaikan.
Para ayah seperti inilah, yang akan menyelesaikan semua gundahnya dengan tanpa menciptakan gundah baru bagi keluarganya, karena ia takkan menyelesaikan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji besi, atau takkan membiarkan orang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar atau meregang nyawa dihakimi massa setelah tertangkap basah melakukan penjambretan demi membuat istri dan anaknya tetap tersenyum.
Dan saya, yang juga seorang ayah bagi anak-anak yang luar biasa, akan tetap menggenggam gundah saya dengan penuh senyum, dengan hati yang tetap riang dan penuh harap, mengikuti para ayah yang memilih melangkah ringan walaupun dengan gundah di genggaman dan bahkan dipundaknya,, Insya Allah.

“Ya Rabb,, jadikanlah anak-anakku cahaya, sehingga jalanku tetap terjaga di terang-benderang jalan-Mu,,,,”  

(disarikan dari berbagai sumber)

Rabu, 22 Januari 2014

Banjir, Antara Musibah dan Wisata

Setiap tahun, pada akhir dan awal tahun, kita selalu dihadapkan pada realita yang menyedihkan, banjir dimana-mana. Berbagai upaya pastinya sudah dilakukan oleh berbagai pihak, namun sampai dengan awal tahun 2014 ini pengaruh atas upaya penanganan banjir seakan belum terlihat, banjir tetap terjadi, bahkan bertambah meluas ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak mengalami musibah tahunan ini.
Duka dan rasa prihatin yang dalam bagi saudara-saudaraku yang terkena musibah, baik itu di Jakarta, Manado, Subang, Indramayu, Jawa Tengah dan Jawa Timur serta wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Secara pribadi penulis hanya dapat berdoa, semoga banjir segera surut, para korban tetap sehat dan tabah sehingga ketika banjir surut nanti dapat melanjutkan kehidupannya dengan baik.
Secara kritis mari kita lihat penyebab terjadinya banjir. Secara sederhana banjir dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana debit air permukaan meluap dan melebihi daya tampung danau, sungai, saluran air, waduk dan embung air sehingga air permukaan berada di pakarangan rumah kita, di jalan-jalan lingkungan kita, di jalan-jalan raya, bahkan di ruang tamu dan ruang keluarga serta dapur kita, hmmmm,,,, bahkan di kamar yang biasanya hanya ada istri/suami yang tertidur menantang pun kini isinya air melulu,,, ohhhh banjir.
Ketika semua ini terjadi, lalu telunjuk kita pun menjadi liar tanjak-tunjuk kesana kemari menyalahkan pihak-pihak yang bisa kita persalahkan, pemerintahlah yang salah karena tidak benar dalam menyusun RTRW daerahnya, karena terlalu bernafsu membangun tanpa memperhatikan AMDAL, karena tidak mentaati undang-undang yang menuntut penyediaan ruang terbuka hijau 30% di setiap kota, karena tidak mengeruk sungai dengan baik padahal anggaran untuk itu ada, karena hanya membangun gedung, jalan, perumahan, pabrik-pabrik sehingga menghabiskan lahan terbuka sebagai daerah resapan, karena mereka korup sehingga anggaran untuk pembangunan yang bersifat pencegahan pun tidak dilaksanakan karena uangnya masuk kantong pribadi untuk memperkaya diri dan untuk menambah istri atau bahkan untuk membeli suami brondong, hehe, 
atau para pengusaha dan penguasa hutanlah yang salah karena mereka hanya gemar menebang pohon dan abai menanamnya kembali, karena mereka membangun usahanya dengan menyediakan villa-villa indah dan nyaman di daerah yang seharusnya tidak boleh dibangun,,
Tidak salah pula jari kita menunjuk pada muka mereka sebab mereka pantas dan layak pula dipersalahkan, sebab ulah merekalah yang membuat puluhan ribu orang harus diam di pengungsian yang serba darurat, puluhan orang meninggal dunia, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan seisinya sehingga harus memulai kembali kehidupannya dari nol, jalanan macet dimana-mana sehingga menghambat arus distribusi barang dan pasti akan menyebabkan inflasi, lalu-lintas ekonomi terganggu, kegiatan kerja di tempat-tempat produksi menjadi tidak efektif, bahkan banyak pula kantor pemerintah yang terendam sehingga tidak dapat melayani rakyatnya, ahhh,,, entah berapa puluh atau ratus trilyun kerugian akibat banjir ini,,, ini benar-benar musibah (musim air bah), maafkan kami Tuhan,,,
Lalu cukupkah hanya dengan saling menyalahkan? Rasanya tidak, sebab kita pun tampaknya punya kontribusi sebagai penyebab semua ini terjadi ketika kita diam saat melihat para pemimpin dan pejabat korupsi, saat melihat para pengambil kebijakan menerapkan kebijakan yang salah, atau saat melihat para pengusaha merusak hutan dan menanaminya dengan gedung-gedung,,, jadi mari lawan mereka, lawan kebijakan-kebijakan yang merugikan kita dengan lantang sebab uang kita harus bermanfaat bagi masa depan generasi yang akan datang.
Dan,,, mari lawan diri kita sendiri yang selalu buang puntung rokok sembarangan, buang sampah sembarangan, dan mari kita rangsang diri kita sendiri untuk gemar menanam pohon, membuat lubang resapan di pekarangan rumah kita walaupun hanya 1 atau 2 buah, mari buang sampah pada tempatnya dan sebaiknya kita daur ulang sampah itu menjadi barang-barang yang bermanfaat tapi murah sehingga sampah yang tadinya berada di tempat kotor dapat pindah ke meja tamu, rak buku, meja makan dan ruang-ruang lain di rumah kita,, mari jadikan ini sebagai budaya baru yang akan membuat hidup jadi lestari.
Banjir memang musibah yang menyedihkan, namun kita pun menjadi tersenyum trenyuh saat melihat anak-anak di wilayah banjir dengan gembira berenang dan bermain air, ohhh anak-anakku yang kehilangan tempat bermain,,,, 
Tapi senyum trenyuh berubah menjadi senyum nyinyir saat melihat para pejabat datang dengan membawa program bantuan berlagak seperti pahlawan, kenapa hanya aktif mengobati (kuratif) dan bukan sejak awal mencegah (preventif)? 
Senyum kita berubah lagi jadi seringai, tatkala melihat partai-partai mendirikan posko dan mengibarkan bendera partainya, serta memasangi biskuit bantuan pemerintah dengan sticker alat kampanye pencalonan para anggotanya,,, seringai pun akhirnya berujung mual, muak dan muntah melihat kemurtadan sosial ini.
Banjir, bagi kita adalah musibah,,, bagi mereka adalah destinasi wisata baru,,, subhanallah.

(teriring duka dan doa bagi saudara-saudaraku yang terkena musibah,,,)

Senin, 20 Agustus 2012

Andai Aku Tahu Ini Ramadhan Terakhir Bagiku….


Andai Aku Tahu Ini Ramadhan Terakhir Bagiku….

tidak akan aku sia siakan walau sesaat berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran senantiasa aku bacakan dan perdengarkan kehadapan MU ...ya Rabb

andai aku tahu ini Ramadhan terakhir.. 

setiap malam kan kusibukkan dengan
bertarawih..  berqiamullail... bertahajjud...
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku berharap untuk ke syurga-MU
dan....aku tak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai aku tahu ini Ramadhan terakhir..

aku akan selalu bersama dengan mereka yang tersayang
aku isi Ramadhan dengan hal yang bermanfaat
aku buru... aku cari.. suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan


andai aku tahu ini Ramadhan terakhir..

aku bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiapkan diri... rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan  lorong-lorong ridha Ar-Rahman


Duhai Illahi...

andai ini Ramadhan terakhir buat-ku
jadikanlah Ramadhan ini paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati -ku
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih saying-Mu ... Ya Ilahi


Namun sahabat....

tak akan ada manusia yang mampu mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir  kali bagi kita atau bukan
yang mampu seorang hamba lakukan hanyalah
berusaha... bersiap-siap ... bersedia ...  dan meminta belas-NYA,

…… namun aku telah menyia-nyiakannya,,,,,, ampuni hamba Yaa Rabb…

Selamat jalan ya Ramadhan,

Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim.

Chik - Girimadani, 1 Syawal 1433 H

Sabtu, 14 Juli 2012

Gerakan Inspiratif : Kepedulian Komunitas Pemuda Saung Eurih


Terbang melayang di angkasa seperti burung elang sambil mengawasi daratan itu memang nikmat dan pasti mempesona,,, namun bila kelamaan "berfikir ngawang-ngawang" alias "tidak membumi" tampaknya malah bisa-jadi sia-sia, sebab kenyataan hidup adanya di bumi, sebab pembelajaran hidup adanya dalam realitas kehidupan. Demikian pun dalam hal berpikir tentang pemberdayaan masyarakat, bila kita hanya sebatas menggeluti konsep tanpa mau (mulai) melakukan sesuatu sekecil apapun, maka kita hanya akan pandai berteori, namun tidak merubah apapun,,,
Terinspirasi oleh apa yang dilakukan oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya "Kelompok Pemuda Saung Eurih" yang mengelola kegiatan sosial dalam kegiatan PNPM-Perkotaan di Kelurahan Cicurug - Majalengka, sungguh seperti pendaratan- pikiran yang berjalan-mulus di sebuah oase yang sejuk.
Berawal dari bersentuhannya para pemuda dengan persoalan sosial sepasang kakek-nenek lansia miskin yang tinggal di rumah tidak layak huni yang letaknya bersebelahan dengan Saung Eurih tempat mereka nongkrong dan diskusi,,
Once upon time in Saung Eurih, para pemuda tersebut mendengar kabar bahwa kakek-nenek itu sakit, tergeraklah mereka untuk menjenguknya. Benar saja, kakek-nenek itu dua-duanya sakit, walaupun bukan sakit keras, dan hanya demam-flu, tapi kakek-nenek itu memang sakit, dan membiarkan sakitnya karena memang tidak memiliki uang untuk berobat, bahkan tidak memiliki siapapun untuk teman bicara walaupun hanya untuk sekedar mendengar keluhannya, sehingga kepada para pemuda itulah kakek-nenek itu menyampaikan harapannya.
"Jang, aki teh hayang dipariksa ka mantri, meunang kitu tilu-rebu, dan aki ngan boga duitna oge tilu rebu", artinya "Nak, kakek pengen diperiksa sama mantri, dapat enggak ya tiga ribu biayanya, soalnya kakek cuma punya uangnya juga tiga ribu rupiah",, Subhanallah,,,
Sebuah realitas yang sangat menyentuh, realitas yang menggerakkan nurani para pemuda tersebut, sehingga tercetuslah inisiatif mereka untuk membantu memeriksakan (dan membantu biaya berobat) kakek-nenek tersebut dengan menghadirkan mantri, tapi ketika melihat kondisi kemiskinan kakek-nenek tersebut maka mantri-pun menolak untuk dibayar,, 
Tibalah saatnya minum obat yang diberikan tadi, anak-anak muda itu menyarankan agar si kakek-nenek makan terlebih dahulu sebelum minum obat. Namun ternyata, di situ hanya ada nasi-liwet tanpa lauk pauk bekas makan kemarin, yang mungkin sudah dingin dan basi, yang harus dipanaskan kembali bila mau dimakan,,, MasyaAllah...!
Andai jantung para pemuda itu berhenti berdegup, andai mata mereka berkaca-kaca, andai tak ada lagi kata-kata yang dapat terucap karena lidah tercekat menyaksikan kenyataan yang memilukan itu, dapat dimaklumi,, karena mereka akhirnya jadi saksi atas akibat ketidak-adilan yang terjadi, jadi saksi atas akibat yang ditimbulkan oleh korupsi, ketidak-pedulian, pembangunan yang salah sasaran,,, sebab mereka jadi saksi atas kondisi kemiskinan yang real yang ada di hadapan mata-kepala mereka sendiri.
Sungguh pengalaman bathin yang luar biasa karena tidak setiap orang dapat mengalami dan menemukan hal-hal yang istimewa seperti itu secara langsung, memang mereka marah, mereka sedih, lidah mereka tercekat,  mata mereka berkaca-kaca,, namun tak cukup sampai disitu, "kemarahankesedihandanlidahtercekatsertaairmatayangmembasahimatamereka" itu mereka jadikan energi untuk langsung melangkah, merogoh kocek, membeli rotisusuberasdanlaukpauk yang saat itu juga langsung diberikannya kepada kakek-nenek dengan harapan obatnya dapat segera diminum dengan didahului makan roti dan minum susu,,, 
Yang lebih menyentuh lagi, ketika Tim Fasilitator memberikan bantuan berbentuk uang, besoknya kakek-nenek itu mengumpulkan anak-anak miskin tetangganya dan sebagian uang yang diterimanya tersebut dia kasihkan kepada anak-anak itu, dengan ungkapan yang sangat bersahaja dan mengharukan : "Saya juga pengen memberi kalau lagi punya uang mah",,, luarbiasa.
Pembelajaran dari realitas di atas menumbuhkan kesadaran & kepedulian yang luarbiasa, akhirnya mereka tahu bahwa persoalan hidup dalam sebuah keluarga miskin itu bukan periode tahunan, enam-bulanan atau tiga-bulanan,, tapi bersifat harian  (hari ini makan dari mana,,? hari ini makan atau tidak,,,?). Padahal KSM yang mengelola dana kegiatan sosial, paling-paling hanya dapat memberikan santunan dari keuntungan usaha produktif yang dikelolanya hanya dalam periode enam bulanan,,,, (.....????).
Beranjak dari kesadaran itu, akhirnya 10 orang anggota Kel. Pemuda Saung Eurih bersepakat menyisihkan uang seribu per hari per orang, yang dikumpulkan secara sukarela setiap tanggal 12 yang selanjutnya mereka belanjakan kebutuhan pokok untuk diberikan kepada warga miskin yang menurut mereka layak menerimanya. "Lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat walaupun kecil/sedikit daripada hanya berpikir ingin melakukan sesuatu yang besar namun tidak melakukan apa-apa", prinsip itulah yang mendorong mereka berbuat, dan akhirnya meresonansi gerakan kepedulian kepada lingkungannya.
Telah tiga bulan berjalan gerakan kepedulian yang mereka namakan "GEUS SEUBEUH" (Gerakan Seribu Sehari) itu, dalam Bahasa Indonesia "GEUS SEUBEUH" berarti "SUDAH KENYANG", kini selain 10 orang anggota KSM Pemuda Saung Eurih tersebut, telah bertambah lagi 2 orang peduli yang secara sukarela ikut-serta dalam gerakan mulia ini, bukan hanya itu, bahkan salahsatu Tim Fasilitator pun kini melakukan gerakan serupa, ada pula KSM yang setelah mendengar kisah ini kemudian menjalin kerjasama dengan UPZ (Unit Pengelola Zakat) di desanya, luar biasa, gerakan kepedulian ini telah ber-resonansi, semoga resonansinya semakin besar dan semakin luas, amien.
Sementara ada pihak-pihak tertentu yang masih (sekedar) menyibukkan diri dengan kekhawatiran kegiatan sosial yang didanai program PNPM ini tidak berkelanjutan dan tidak tepat sasaran, Kelompok Pemuda Saung Eurih sudah melangkah jauh dengan melakukan penggalangan dana sosial dan melaksanakan santunan kepada warga miskin jompo,,, secara mandiri dan periodik.
Jadi, mari berbuat chik, jangan hanya menggeluti konsep dan diskusi tentang kepedulian, atau update status dan nulis di blog saja...! 
Salam.
(by : Chik - in Refleksi Pembelajaran Realitas Lapang)  

Gerakan Inspiratif : Kepedulian Komunitas Pemuda Saung Eurih


Terbang melayang di angkasa seperti burung elang sambil mengawasi daratan itu memang nikmat dan pasti mempesona,,, namun bila kelamaan "berfikir ngawang-ngawang" alias "tidak membumi" tampaknya malah bisa-jadi sia-sia, sebab kenyataan hidup adanya di bumi, sebab pembelajaran hidup adanya dalam realitas kehidupan. Demikian pun dalam hal berpikir tentang pemberdayaan masyarakat, bila kita hanya sebatas menggeluti konsep tanpa mau (mulai) melakukan sesuatu sekecil apapun, maka kita hanya akan pandai berteori, namun tidak merubah apapun,,,
Terinspirasi oleh apa yang dilakukan oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya "Kelompok Pemuda Saung Eurih" yang mengelola kegiatan sosial dalam kegiatan PNPM-Perkotaan di Kelurahan Cicurug - Majalengka, sungguh seperti pendaratan- pikiran yang berjalan-mulus di sebuah oase yang sejuk.
Berawal dari bersentuhannya para pemuda dengan persoalan sosial sepasang kakek-nenek lansia miskin yang tinggal di rumah tidak layak huni yang letaknya bersebelahan dengan Saung Eurih tempat mereka nongkrong dan diskusi,,
Once upon time in Saung Eurih, para pemuda tersebut mendengar kabar bahwa kakek-nenek itu sakit, tergeraklah mereka untuk menjenguknya. Benar saja, kakek-nenek itu dua-duanya sakit, walaupun bukan sakit keras, dan hanya demam-flu, tapi kakek-nenek itu memang sakit, dan membiarkan sakitnya karena memang tidak memiliki uang untuk berobat, bahkan tidak memiliki siapapun untuk teman bicara walaupun hanya untuk sekedar mendengar keluhannya, sehingga kepada para pemuda itulah kakek-nenek itu menyampaikan harapannya.
"Jang, aki teh hayang dipariksa ka mantri, meunang kitu tilu-rebu, dan aki ngan boga duitna oge tilu rebu", artinya "Nak, kakek pengen diperiksa sama mantri, dapat enggak ya tiga ribu biayanya, soalnya kakek cuma punya uangnya juga tiga ribu rupiah",, Subhanallah,,,
Sebuah realitas yang sangat menyentuh, realitas yang menggerakkan nurani para pemuda tersebut, sehingga tercetuslah inisiatif mereka untuk membantu memeriksakan (dan membantu biaya berobat) kakek-nenek tersebut dengan menghadirkan mantri, tapi ketika melihat kondisi kemiskinan kakek-nenek tersebut maka mantri-pun menolak untuk dibayar,, 
Tibalah saatnya minum obat yang diberikan tadi, anak-anak muda itu menyarankan agar si kakek-nenek makan terlebih dahulu sebelum minum obat. Namun ternyata, di situ hanya ada nasi-liwet tanpa lauk pauk bekas makan kemarin, yang mungkin sudah dingin dan basi, yang harus dipanaskan kembali bila mau dimakan,,, MasyaAllah...!
Andai jantung para pemuda itu berhenti berdegup, andai mata mereka berkaca-kaca, andai tak ada lagi kata-kata yang dapat terucap karena lidah tercekat menyaksikan kenyataan yang memilukan itu, dapat dimaklumi,, karena mereka akhirnya jadi saksi atas akibat ketidak-adilan yang terjadi, jadi saksi atas akibat yang ditimbulkan oleh korupsi, ketidak-pedulian, pembangunan yang salah sasaran,,, sebab mereka jadi saksi atas kondisi kemiskinan yang real yang ada di hadapan mata-kepala mereka sendiri.
Sungguh pengalaman bathin yang luar biasa karena tidak setiap orang dapat mengalami dan menemukan hal-hal yang istimewa seperti itu secara langsung, memang mereka marah, mereka sedih, lidah mereka tercekat,  mata mereka berkaca-kaca,, namun tak cukup sampai disitu, "kemarahankesedihandanlidahtercekatsertaairmatayangmembasahimatamereka" itu mereka jadikan energi untuk langsung melangkah, merogoh kocek, membeli rotisusuberasdanlaukpauk yang saat itu juga langsung diberikannya kepada kakek-nenek dengan harapan obatnya dapat segera diminum dengan didahului makan roti dan minum susu,,, 
Yang lebih menyentuh lagi, ketika Tim Fasilitator memberikan bantuan berbentuk uang, besoknya kakek-nenek itu mengumpulkan anak-anak miskin tetangganya dan sebagian uang yang diterimanya tersebut dia kasihkan kepada anak-anak itu, dengan ungkapan yang sangat bersahaja dan mengharukan : "Saya juga pengen memberi kalau lagi punya uang mah",,, luarbiasa.
Pembelajaran dari realitas di atas menumbuhkan kesadaran & kepedulian yang luarbiasa, akhirnya mereka tahu bahwa persoalan hidup dalam sebuah keluarga miskin itu bukan periode tahunan, enam-bulanan atau tiga-bulanan,, tapi bersifat harian  (hari ini makan dari mana,,? hari ini makan atau tidak,,,?). Padahal KSM yang mengelola dana kegiatan sosial, paling-paling hanya dapat memberikan santunan dari keuntungan usaha produktif yang dikelolanya hanya dalam periode enam bulanan,,,, (.....????).
Beranjak dari kesadaran itu, akhirnya 10 orang anggota Kel. Pemuda Saung Eurih bersepakat menyisihkan uang seribu per hari per orang, yang dikumpulkan secara sukarela setiap tanggal 12 yang selanjutnya mereka belanjakan kebutuhan pokok untuk diberikan kepada warga miskin yang menurut mereka layak menerimanya. "Lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat walaupun kecil/sedikit daripada hanya berpikir ingin melakukan sesuatu yang besar namun tidak melakukan apa-apa", prinsip itulah yang mendorong mereka berbuat, dan akhirnya meresonansi gerakan kepedulian kepada lingkungannya.
Telah tiga bulan berjalan gerakan kepedulian yang mereka namakan "GEUS SEUBEUH" (Gerakan Seribu Sehari) itu, dalam Bahasa Indonesia "GEUS SEUBEUH" berarti "SUDAH KENYANG", kini selain 10 orang anggota KSM Pemuda Saung Eurih tersebut, telah bertambah lagi 2 orang peduli yang secara sukarela ikut-serta dalam gerakan mulia ini, bukan hanya itu, bahkan salahsatu Tim Fasilitator pun kini melakukan gerakan serupa, ada pula KSM yang setelah mendengar kisah ini kemudian menjalin kerjasama dengan UPZ (Unit Pengelola Zakat) di desanya, luar biasa, gerakan kepedulian ini telah ber-resonansi, semoga resonansinya semakin besar dan semakin luas, amien.
Sementara ada pihak-pihak tertentu yang masih (sekedar) menyibukkan diri dengan kekhawatiran kegiatan sosial yang didanai program PNPM ini tidak berkelanjutan dan tidak tepat sasaran, Kelompok Pemuda Saung Eurih sudah melangkah jauh dengan melakukan penggalangan dana sosial dan melaksanakan santunan kepada warga miskin jompo,,, secara mandiri dan periodik.
Jadi, mari berbuat chik, jangan hanya menggeluti konsep dan diskusi tentang kepedulian, atau update status dan nulis di blog saja...! 
Salam.
(by : Chik - in Refleksi Pembelajaran Realitas Lapang)  

Rabu, 11 Juli 2012

Seberapa Besarkah Bumi Kita?



Rasanya Bumi yang kelilingnya 40.000 km ini sangat besar bagi kita. Untuk pergi ke Amerika atau Afrika saja jauh sekali. Apalagi jika sampai harus ke Antartika.

Tapi coba kita lihat besar Bumi kita dengan ciptaan Allah lainnya. Ternyata tidak ada apa-apanya. Bahkan bintang yang terbesar pun hanya satu titik dibanding Galaksi, Cluster, Super Cluster, Jagad Raya.
Tapi di atas semua itu kita harus yakin bahwa Allah pencipta Semesta Alam jauh lebih besar dari semua itu. Allah Maha Besar!


Ukuran Bumi dibanding Planet Jupiter

Ukuran Bumi dibanding Matahari. Diameter (lebar) matahari 1.391.980 km. Jika bumi “dimasukkan” ke matahari, ada 1,3 juta bumi yang bisa masuk.

Ukuran Matahari dibanding Bintang Arcturus

Ukuran Matahari dibanding Bintang Antares. Saat ini bumi sudah tidak bisa dilihat lagi. Diameter Antares 804.672.000 km.




Kalau anda menganggap Antares sudah sangat besar, ternyata bintang itu masih belum apa-apa dibanding dengan galaksi seperti Galaksi Bimasakti yang terdiri dari ratusan milyar bintang dengan lebar hingga 100 ribu tahun cahaya (1 detik cahaya=300.000 km).




Galaksi itu pun tidak seberapa jika dibanding dengan Cluster (Kumpulan) Galaksi yang terdiri dari ribuan Galaksi.




Tapi di atas Cluster masih ada Super Cluster yang terdiri dari ribuan Cluster. Ribuan Super Cluster akhirnya membentuk jagad raya.




Saat ini diperkirakan Jagad Raya (Universe) lebarnya 30 milyar tahun cahaya. Tapi ini cuma angka sementara mengingat teleskop tercanggih saat ini “cuma” bisa mencapai jarak 15 milyar tahun cahaya!
Ini baru langit ke 1. Belum langit ke 2, langit ke 3, hingga langit ke 7 di mana saat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad sampai hingga ke sana.
Jika dunia ini begitu luas, maka Allah menegaskan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Jauh lebih luas lagi dari dunia!

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al Baqarah 255]

Alam semesta ini begitu besar. Namun Allah selaku pencipta jauh lebih besar.
Maha Besar Allah Tuhan Pencipta Alam!
Maka bertasbihlah kepada Allah!


http://syiarislam.wordpress.com/2010/03/12/seberapa-besarkah-bumi-kita-allah-maha-besar

Minggu, 01 Juli 2012

Kasih Sayang Seorang Ibu



Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu sukamencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”


Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat

Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Subhanallah,, tak ada yang dapat ddisetarakan dengan besarnya kasihsayang seorang ibu kepada anaknya,,

Dari : Cerita Inspirasi/Motivasi

Kisah Menyentuh Seorang Ibu Tua


Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja.

Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

How about us.....?

Sumber : Cerita Motivasi


Senin, 11 Juni 2012

Mukjizat Penciptaan Matahari Untuk Kehidupan


Teringat obrolan dengan seorang teman sejawat, obrolan yang hangat, obrolan yang transendental, yang memuncak ke arah Sang Pencipta. Berawal dari diskusi hangat tentang "kurangnya rasa syukur atas nikmat yang diberikan-Nya",,, 
Sadarkah kita (...???) bahwa dalam sehari manusia menghirup 2.880 ltr Oksigen & 11.376 ltr Nitrogen.
Jika hrs dihargai dengan Rupiah, maka Oksigen (Rp. 25.000/ltr) & Nitrogen (Rp. 9.950/ltr) yg kita hirup akan mencapai Rp.170 Jutaan/hr/orang.
Jika kita hitung kebutuhan kita sehari Rp.170.000.000, maka sebulan Rp.5.100.000.000/org.

Itu baru dua macam,, belum kebutuhan akan matahari yang menghangatkan tubuh kita sepanjang hidup kita, bayangkan,,, andai kita harus menyewa inkubator (seperti bayi prematur) untuk menjaga agar suhu tetap stabil - tentunya bila tidak ada matahari - berapa pula uang yang harus kita keluarkan dari kocek kita? Namun sekarang semua itu dapat kita nikmati dengan gratis dan (herannya lagi kadang kita tidak menyadari) bahwa matahari adalah salah satu ciptaan-Nya yang luarbiasa penuh mukjizat, padahal matahari adalah unit terbesar dari sistem tata surya kita, yang tentu saja manfaatnya pun tak terhingga.. 

Matahari sangatlah panas dan mengandung gas yang selalu terbakar. Di permukaannya selalu terjadi ledakan bagaikan jutaan bom atom yang dijatuhkan tiap waktu. Ledakan ini menghasilkan lidah api raksasa yang ukurannya 40 atau 50 kali lebih besar dari bumi kita. (Gambar : Venus terlihat seperti noktah hitam di bagian kiri matahari saat dipantau dengan teleskop milik penggiat Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) di Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (6/6). (dok. HAAJ))


Matahari seperti bola api raksasa yang memberikan panas dan cahaya yang sangat besar dari permukaannya. Ruang angkasa, bagaimanapun, gelap gulita. Bumi kita adalah salah satu bagian yang indah dari kegelapan mutlak itu. Dan, tidak ada unit lain selain matahari di tata surya kita yang mampu menyinari dan menghangatkan bumi kita. Apabila bukan dari matahari, maka akan terjadi malam selama-lamanya, dan setiap daerah akan terselimuti es. Kehidupan dengan begitu akan mustahil, dan kita pun tidak akan ada.

Panas yang diberikan matahari akan sangat tinggi selama musim panas. Namun, matahari jaraknya jutaan kilometer dari bumi, dan hanya 0,2 persen dari panasnya yang benar-benar mencapai bumi. Sejak suhu di bumi bisa sangat tinggi, meskipun matahari letaknya begitu jauh, bagaimana dengan suhu matahari itu sendiri?

Temperatur di permukaan matahari adalah 6.000 derajat Celcius, dan 12 juta derajat Celsius di dalamnya.

Allah telah menciptakan jarak yang sempurna antara bumi dan matahari. Apabila jarak matahari lebih dekat dengan kita, maka semua yang ada di bumi akan menguap dan terbakar. Begitu juga, apabila jaraknya lebih jauh dari saat ini, maka semua daerah akan tertutupi es. Dengan begitu, tentu saja, kehidupan akan mustahil.

Daerah kutub, daerah yang mendapatkan panas paling sedikit dari matahari, secara permanen diselimuti oleh es, sedangkan daerah ekuator, yang mendapatkan lebih banyak panas, selalu panas.
Namun, perbedaan suhu antara kutub dan ekuator ini yang menyebabkan terciptanya iklim moderat di bumi secara keseluruhan, dan iklim inilah yang menyokong terwujudnya kehidupan. Hal tersebut adalah salah satu tanda dari tidak terhitungnya bukti cinta Allah kepada manusia.

Bila matahari lebih besar atau lebih kecil, lebih jauh ataupun lebih dekat dengan bumi, maka sangat tidak mungkin terjadi kehidupan di planet kita.

Bagaimanapun juga, Allah menciptakan matahari, bumi dan sistem tata surya dengan sedemikian teraturnya agar kita dapat hidup dengan nyaman. Di ayat lain dalam Alquran tertera bagaimana matahari dan bulan selalu bergerak sesuai perintah Allah :

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintahNya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (Q.S.An-Nahl (16):12) 

Subhanallah.

Sumber : Harunyahya.com, KapanLagi.com

Rabu, 02 Mei 2012

Ketika Bersekolah Hanya Sekadar Mimpi Kosong... (Catatan Perjalanan Outbond-Spiritual, 28 April 2012)


Sudah 53 tahun masyarakat Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan harapan semua anak Indonesia dapat bersekolah dan menyelesaikan jenjang pendidikannya. Bahkan sejak tahun 2005, di setiap daerah di Indonesia (konon) sudah menuntaskan program wajib belajar sembilan tahun dan segera bergerak menuju wajib belajar 12 tahun pada tahun 2013.

Namun kenyataannya, masih tercecer potret usang dunia pendidikan bagi kaum papa. Dadan, bocah yang seharusnya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ini, terpaksa menanggalkan mimpinya untuk terus mengenyam pendidikan lantaran tidak ada biaya. Kala itu, ayahnya meninggal, penghasilan ibunya sebagai buruh tani tidak cukup untuk membiayai sekolah sehingga Dadan terpaksa putus sekolah saat masih duduk di bangku kelas enam di SDN Kulur 1 Majalengka.

"Bapak udah nggak ada. Ibu dari dulu juga jadi buruh tani. Jadi buat bantu ibu, aku kerja aja. Duitnya bisa untuk makan bareng-bareng," kata Dadan yang sikapnya malu-malu dan gak pede ini, ketika dijumpai di rumahnya di Desa Kulur Kec./Kab. Majalengka (28 April 2012).

Ya, Dadan kecil harus ikut mencari nafkah agar dapur di rumahnya tetap mengepul. Untuk itu, tiap hari ia berjalan dari rumahnya berkeliling kampung dan desa sebagai pengangkat dagangan barang-barang kelontong yang terbuat dari plastic yang dijual Rp.10.000/3 item.

Biasanya, bocah kecil ini berangkat setiap hari kecuali sakit. Upah yang didapatnya per hari juga tidak menentu yaitu antara Rp 10.000 - Rp 15.000.

"Nggak tentu, kak. Kalau rezekinya banyak, ya banyak. Biasanya hari Sabtu dan Minggu rame yang beli, dapetnya juga lumayan. Kalau pulang nggak bawa sesuatu buat ibu, rasanya nggak enak, kak," ungkap Dadan yang sejak 2010 sudah menjadi pengangkat barang dagangan keliling itu.

Lain lagi cerita, bocah kelas 5 SD yang tidak mau menyebutkan namanya (sebut saja Ujang), yang berasal dari Kampung Cijurey Desa Kulur Majalengka ini, ketika ditanya cita-citanya ia menjawab : “Aku ingin jadi dokter, Om”, tapi ketika ditanya mau melanjutkan kemana bila sudah lulus SD untuk menggapai cita-citanya itu, dia menjawab sambil tertunduk ; “aku mau ngarit (menyabit rumput untuk kambing) bersama bapak”, sungguh tragis dan sangat mengenaskan ketika mendapati kenyataan seorang bocah negeri ini yang tidak membiarkan berlama-lama cita-citanya sendiri menjadi “mimpi masa depan”, karena harus segera dikubur oleh kenyataan yang sudah menanti di hadapannya bila lulus SD nanti, yaitu peternak gurem atau jadi buruh tani. 

Namun kendati demikian, si cikal dari 3 bersaudara ini tidak mau bolos sekolah walaupun setiap hari ia harus menempuh jarak 3 KM melewati sebuah bukit dan tegalan untuk mencapai sekolahnya itu, walaupun tahu pada akhirnya nanti ijasahnya tidak akan berguna.

Pendapatan keluarganya hanya cukup untuk sebatas makan dan membayar listrik saja. Untuk mandi, cuci baju dan buang air besar/kecil pun mereka masih numpang ke sumur dan MCK umum yang dibangun oleh sebuah program pemerintah, mengingat warga di areal kampung tersebut rata-rata tidak memiliki sarana air bersih dan MCK. 

Tidak hanya itu, rumah tidak layak huni ini pun sudah dalam keadaan yang rusak parah dan butuh perbaikan, namun jangankan untuk biaya perbaikan rumah, untuk biaya keseharian saja pun kadangkala kurang dan harus meminjam dari tetangga atau bahkan rentenir. Dengan kehidupan seperti itu, Ujang pun lebih memilih untuk bersiap-siap membantu orang tuanya daripada meraih mimpinya dengan tetap bersekolah.

Sosok Dadan dan Ujang ini hanya sebagian kecil gambaran anak usia sekolah yang tak bisa menikmati dunia pendidikan dan membutuhkan perhatian besar dari pemerintah, karena entah ada berapa Dadan dan Ujang bertebaran di negeri kita saat ini.

Semestinya Hari Pendidikan Nasional, hari ini,  yang jatuh bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara tidak hanya sekadar diperingati, tetapi diwujudkan dengan mengembalikan mimpi si papa untuk tetap bersekolah dan merenda mimpi untuk masa depan. Karena yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara kala itu adalah mendirikan perguruan Taman Siswa untuk kaum pribumi jelata, agar bisa mendapat hak pendidikan seperti para bangsawan dan orang-orang Belanda.

Di akhir perjumpaan dengan kedua sosok tangguh yang terpaksa mengubur dalam-dalam cita-citanya itu, dalam pandangan kosong menerawang ke angkasa seakan matanya mengungkapkan harapannya :
 "Aku masih ingin sekolah, tapi apa daya….!”

(matakupun berkaca, ingat masa depan anak-anakku,,,,,,).

dari catatan perjalanan outbond-spiritual bersama crew pnpm majalengka, 28 vapril 2012.